Untuk Renungan

Menghujat Penghujat.

trus kapan selesainya?…
trus apa yang membuat beda antara menghujat dan penghujat?

mengutip pernyataan #sujiwo_tejo
negeri kita ini memang terlalu di manjakan.
di mana tidak ada seleksi alam, sehingga banyak orang-orang yang masih sempat ikut campur dengan urusan orang lain. orang-orang itu kurang merasa kawatir dengan keadaan dirinya sendiri, karena mereka yakin akan tetap bisa hidup walau harus susah payah memfikirkan tentang kehidupan nya sendiri, maka nya orang-orang tersebut masih sempat ikut campur dengan urusan orang lain (termasuk juga yang bikin status ini).

di atas adalah penjabaran versi saya atas pernyataan #sujiwo_tejo,
di mana secara utuh sijiwo tejo dalam pernyataan nya mengatakan
“Karena Indonesia ini tidak ada seleksi alam, maka banyak orang-orang bodoh dan malas tetap hidup di Indonesia, bagai mana di indonesia cuma ada 2 musim, kemarau dan hujan,
bagai mana kalau di luar negeri sana, seperti yang kita tahu di sebagian negara ada musim dingin, dan ketika musim itu tiba suhu di sana mencapai minus dari ukuran derajat. sehingga orang-orang di negeri tersebut dengan segala kekuatan dengan segala upaya akan berusaha agar ketika musim dingin tiba mereka sudah punya tempat untuk beristirahat menghindari dingin yang bisa membunuh mereka karena suhu tersebut bisa membuat aliran darah menjadi beku ketika mereka berada terlalu lama dalam ruang terbuka,
kalau di luar negeri orang-orang yang bodoh/tidak mau berfikir bagaiman menyelamatkan dirinya sendiri dan malas maka mereka akan mati oleh suhu dingin dan itulah seleksi alam”
lebih lengkap dan jelas sahabat bisa searching di Youtube

maaf saya di sini berbicara atas diri saya sendiri, sebagai masyarakat “awam” sebagai makluk Tuhan saya, dan terus terang saya tidak ada di salah satu pihak penghujat ataupun yang sedang di hujat.
karena Perubahan politik sejak yang saya alami ketika di pimpin oleh Bapak Soeharto (baca Suharto) sampai hari ini setelah mengalami beberapa pergantian pemimpin dan sistem pemerintahan.
bagi saya tidak begitu memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan saya pribadi ataupun keluarga saya, baik secara ekonomi, sosial, ataupun spiritual.
bukan ,… bukan saya anti politik, atau bahkan benci politik, tidak sama sekali saya secara berkala walaupun tidak terjadwal saya tetap mengikuti perkembangan politik yang terjadi dan sebisa mungkin saya berusaha untuk tidak ikut dalam salah satu arus dinamika tersebut, saya hanya berusaha menikmati dan menerima bahwa ini lah konsekuensi saya sebagai masyarakat “awam”.
melihat mendengar menyaksikan gejolak situasi tanah air tercinta ini.

ya, menurut anda jika saya ini terlalu apatis, saya terima itu. itu hak anda berpendapat. namun menurut saya menjadi diri sendiri dan memaksimalkan potensi diri itu lebih penting dan secara tidak langsung imbas nya akan juga di rasakan oleh orang-orang di sekitar kita. lebih baik kita fokus pada kebaikan diri kita pribadi dulu menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab kita, menjadi kita sepenuhnya sesuai posisi kita sebagai makluk Tuhan, di mana kita berada dan sebagai diri sendiri dalam posisi yang memang itu adalah posisi kita.

maaf secara akademis saya memang bukan orang yang berpendidikan, saya juga bukan anak pesantren, jadi mungkin saya terlalu lunak atau sebagian orang mengatakan “masa bodoh” dengan gejolak situasi yang berkembang, baik gejolak yang sedang ramai dalam bidang religi ataupun juga perpolitikan saat ini yang menjadi top news dalam beberapa pemberitaan baik media elektronik cetak ataupun digital.
sekalai lagi bagi saya, lebih baik saya meng optimalkan diri saya sendiri sebagai saya, sebagai makluk Tuhan. dengan lebih bertanggung jawab atas apa yang ada pada diri saya saat ini.
saya akan lebih giat bekerja, saya akan lebih khusu berdoa, saya akan lebih rajin mengingat Tuhan saya, karena seperti yang pernah saya pelajari dan saya yakini hingga saat ini “Tuhan” saya tidak pernah mengajarkan orang untuk berbuat tidak baik.
dan saya percaya Tuhan saya sudah punya cara bagaimana Tuhan mengurus Orang-orang yang tidak sesuai dengan apa yang Tuhan anjurkan tersebut.
Tuhan saya itu maha.

saya di sini tidak bermaksud, berniat mempengaruhi sahabat-sahabat, saudara-saudaraku tercinta untuk ikut meyakini atau bahkan untuk melihat dan menanggapi permasalahan di sekitar anda seperti prinsip yang saya anut, tidak sama sekali.saya hanya sedikit bercerita tentang saya, seseorang yang masih terus belajar untuk menerima takdir, karma sebagai makluk Tuhan.
yuk mari berfikir smart untuk diri kita masing-masing dulu karena imbasnya nanti akan menjadi baik pula untuk orang-orang di sekitar kita

Save Slote, Save Serangan, Save Ponorogo, Save Indonesia.