“Identitas” Catatan Inspiratif Oleh GUSMUS

IDENTITAS

oleh A. Mustofa Bisri

Sebagaimana dalam hidup dan dalam belajar, dalam beragama pun orang itu berjenjang. Ada masa kanak-kanak, remaja, dewasa; ada tingkat dasar, menengah (SMP-SMA), perguruan tinggi dan seterusnya.

Dalam setiap masa, ada perilaku yang berbeda dari perilaku masa lain. Misalnya masa kanak-kanak, khas dan berbeda dari masa remaja. Demikian pula perilaku masa remaja tak sama dengan perilaku setelah dewasa. Perhatikan pula perilaku anak-anak di tingkat SD dan bandingkan, misalnya dengan mereka yang di SMP atau SMA. Atau yang terakhir ini dengan mereka yang sudah di perguruan tinggi.

Mereka yang berada di salah satu masa itu ternyata juga berjenjang. Seperti mereka yang di perguruan tinggi misalnya, ada yang baru masuk; ada yang sudah S1, S2 dan seterusnya.

Masa remaja atau dalam sekolah, tingkat menengah; biasa disebut masa mencari identitas. Kita, misalnya bisa melihat banyak anak SMA yang bersikap aneh-aneh sekedar untuk menunjukkan “identitas” mereka untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan masyarakat.

Dalam beragama, kita pun bisa melihat sikap dan perilaku yang berbeda-beda dari kaum beragama. Masing-masing sesuai tingkat pikiran dan pemahamannya terhadap agama dan terhadap Tuhan. Ada kelompok kaum beragama yang asal ikut saja. Ada yang mulai menyenangi agamanya. Ada menganggap perlu menunjukkan agamanya melalui sikap perilaku. Ada yang malah menganggap perlu memperhatikan diri sebagai pebela agama.

Mereka yang merasa perlu selalu menunjukkan identitasnya sebagai pemeluk agama pun berbeda-beda sikap dan perilakunya. Ada yang –sesuai tingkat pemahamannya- sebatas memperlihatkan simbol-simbol luar agama, seperti membangun dan mengindah-indahkan tempat ibadah; menggunakan pengeras suara untuk melantunkan ayat-ayat suci dan “mensyiarkan” ibadah. Bahkan ada yang sekedar memperlihatkan “identitas” mereka dengan cara mereka bergaul; cara berpakain; dan penggunaan idiom-idiom yang dianggap agamis, seperti sebutan dan sapaan mereka kepada kawan-kawan, dan sebagaimana. Bahkan ada diantara mereka yang merasa berdosa bila menyebut Allah dengan Tuhan atau menyebut shalat dengan sembahyang, misalnya.

Mereka ini karena memang sengaja memperlihatkan “identitas” mereka, maka orang pun segera bisa mengenali mereka. Biasanya mereka ini mengidentikkan agama mereka dengan –atau tidak begitu bisa membedakannya dengan—negara asal nabinya, atau dari mana agama itu bermula datang. Mereka akan marah bila negara, bangsa, atau bangsa yang bersangkutan, misalnya, dikritik orang. Mereka eksklusif dan agaknya bangga dengan keeksklusifan mereka. Seolah-olah dengan cara itu keimanan mereka baru bisa diketahui.

Di tataran lain, ada juga yang berusaha menampakkan ajaran agamanya dalam perilaku sehari-hari. Meniru jejak langkah nabi mereka. Selain dalam ibadah ritual, mereka bisa dikenali dari cara mereka berjalan yang anteng kalem, sikap mereka yang santun dan rendah hati, penghormatan mereka kepada orang lain, penghormatan mereka kepada tamu, tetangga, dan orang yang lebih tua, dan sayang mereka kepada orang yang lebih muda, dan sebagainya.

Tapi memang yang seperti mereka ini tidak menonjol, tidak terlihat “gagah”. Orang malah mungkin tidak tahu identitas atau apalagi keimanan mereka. Bagai mereka, hal ini memang tidak penting. Bagi mereka cukuplah Tuhan yang maha mengetahui identitas dan keimanan mereka. Wallahu a’lam.

artikel ini di sadur dari : http://gusmus.net/mata-air/identitas